A. Lokasi Desa Trunyan
Desa Trunyan terletak didalam satu kepundan gunung berapi purba, yaitu gunung Batur purba. Gunung Batur purba pernah meletus beberapa ribu tahun yang lalu. Sebagai akibat dari letusan itu terbentuklah sebuah kepundan yang sangat luas dengan panjang 9 km dan lebar ± 5 km. Kepundan itu sekarang sudah menjadi sebuali danau yang sangat indah, yang diberi nama Danau Batur.
Disebelah barat kepundan tersebut kemudian tumbuh anak gunung berapi (gunung berapi baru) setinggi 1717 meter gunung tersebut dinamakan Gunung Batur. Desa Trunyan sebagai salah satu “desa tua” di Bali terletak disebelah timur Danau Batur, pada sebagian dinding kepundan yang landai, yang diberi nama belongan, pada ketinggian 1038 meter dari permukaan laut.
Belongan-belongan yang ditempati oleh penduduk Trunyan seluruhnya berjumlah tujuh buah, yaitu : tiga belongan besar dan empat belongan kecil. Desa induk Trunyan didirikan disalah satu belongan besar dan makam Trunyan yang sangat terkenal itu terletak pada salah satu belongan kecil.
Dua belongan besar Desa Trunyan lainnya adalah. Cemelandung dan Tanggun Titi dan tiga belongan kecil yang dipergunakan untuk tempat-tempat mendirikan pondok-pondok bagi mereka yang berkebun disana adalah kakap, waru dan sebuah belongan kecil lainnya, yang khusus dipergunakan untuk makam (kuburan) orang-orang yang belum kawin pada waktu meninggal dunia dan bagi anak-anak kecil. Makam (kuburan) itu disebut sema Nguda (kuburan orang muda).
Belongan ini terletak disebelah selatan belongan yang dijadikan tempat pemakaman (kuburan) orang-orang yang telah kawin sewaktu meninggal, yang dinamakan sema Wayah (makam orang tua).
Belongan besar Cimelandung, Tanggun Titi dan desa induk Trunyan karena letaknya sejajar (pada dataran landai) dapat dicapai melalui jalan setapak yang dibuat pada tebing dinding kepundan mulai dari desa Buahan, yang terletak disebelah selatannya. Sedangkan kelima belongan kecil yaitu : Sema Nguda, Sema Wayah, Kkap, Waru tidak dapat dicapai melalui jalan darat dan harus melalui penyebrangan danau dengan menggunakan perahu bermotor atau perahu. Karena letak Desa Trunyan yang terpencil itu, maka untuk berkunjung kesana dapat dilakukan dengan menempuh jalan sebagai berikut :
- Melalui penyebrangan danau, dengan menggunakan perahu bermotor ataupun
perahu (perahu kayuh).
- Melalui jalan darat, yaitu melalui jalan aspal ditebing bukit yang berada disebelah timur desa Buahan, Abang dan Trunyan, dengan medan perjalanan yang cukup baik dan bisa dilalui oleh kendaran seperti mini Bus.
Dengan lokasi desa Trunyan yang berada didalam satu kepundan ini, maka hawa udaranya sangat sejuk dan jauh lebih hangat dibandingkan dengan hawa udara didesa Penelokan.
B. Identifikasi Kebudayaan Pendudvik Desa
Penduduk Desa Trunyan bukanlah termasiuk penduduk desa yang “primitif” tetapi
termasuk penduduk petani desa yang konservatif.
Dipulau Bali penduduk desa Trunyan dikenal dengan sebutan “Bali Aga” atau
“Bali Mula”.
“Bali Aga” berarti orang Bali pegunungan, sedangkan “Bali Mula” berarti
“Bali Asli”.
Dalarn kehidupan masyarakat Bali, penduduk desa Trunyan sering dianggap sebagai
orang Bali yang tidak mendapat pengaruh Hindu (kebudayaan Jawa). Namun demikian penelitian yang dilakukan oleh P.V. Van Stein Callenfels dan R. Goris mengenai prasasti perunggu yang diketemukan disalah satu pelinggih didalam pura utama Trunyan membuktikan bahwa pada abad X Masehi (833 caka.) Desa Trunyan sudah berada dibawah. pengaruh para penyebar agama Hindu. Demikian juga Trunyan tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan Hindu, yang dibawa dari Majapahit, karena para penguasa Kraton Gelgel pernah mengirimkan pejabat-pejabat pemerintahannya, yang terdiri dari warga Kepasekan Gelgel untulc memerintah desa Trunyan.
Hal ini dibuktikan dengan adanya keturunan pejabat tersebut, yang kini dikenal sebagai warga kasta “Banjar Jero”.
Menurut Swellengrebel : orang yang memerintah kerajaan Gelgel pada waktu itu adalah para pejabat kerajaan yang berasal dari Majapahit.
Beberapa bukti lainnya dapat diuraikan, bahwa didalam “Pura utama desa Trunyan, yang bernama Bali Desa Pancering Jagat Bali, juga ada satu balai yang disebut Bale Maspait dan berupa sebuah kompleks bangunan suci yang disebut sebagai kompleks Pelinggih Maspahit. Demikian juga dibeberapa sanggah pedadian, antara lain dari kasta Banjar Jero (keturunan Kepasekan Gelgel) dapat dilihat adanya patung kayu berupa kepala dan leher rusa, yang disebut Manjangan Seluang.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah, bahwa kebudayaan Bali Aga, Bali Mula atau Bali Turunan di Desa Trunyan adalah suatu kebudayaan yang sudah juga terkena pengaruli kebudayaan Hindu, baik yang berasal dari Bali maupun dari Majapahit, namun pengaruh tersebut hanya bersifat sentuhan saja.
Hal ini dilihat dari dewa-dewa yang dipuja di pura utama Bali Desa Pancering Jagat Bali, yang terpenting adalah para Betara Kawitan (roh leluhur yang telah disucikan)
Desa Trunyan telah ada sejak jaman kuna, dan mungkin juga sejak jaman Purbakala. Pada Prasasti Trunyan A I, yang berasal dari abad X Masehi (833 Caka) dapat dibaca tentang ijin pembuatan sebuah bangunan suci bagi Batara da. Tonta yang pada dewasa ini oleh penduduk lebih dikenal dengan nama Ratu Sakti Pancering Jagat.
Apabila pura utama Desa Trunyan sudah berumur seribu tahun lebih, maka dapat disimpulkan bahwa usia desanya seharusnya lebih tua lagi.
Kesimpulan ini dapat diperkuat dengan kenyataan diketemukannya beberapa alat batu paleolitik seperti; kapak perumbas, prato kapak genggam, kapak perimbas berpuncak, dan kapak perimbas pipih, yang terbuat dari batu disekitardesa induk Trunyan, oleh R.P. Soejono.
Bukti lainnya yang menunjukkan sifat tua desa .Trunyan adalah patung batu dengan ukuran cukup besar, yang dianggap perwujudan dewa tertinggi Ratu Sakti Pancering Jagat (Da Tonta).
Lienurut R. Goris patung tersebut merupakan seni patung gaya megalitik. Selain itu ada pula peninggalan kebudayaan megalitik berupa tangga batu, yang yang diberi nama jalan batu Gede.
Jalan itu menghubungkan desa induk Trunyan dengan anak-anak desa (tempek-tempek) Trunyan ialah tempek Madia Pangkungan dan tempek Bunut, Nama desa Trunyan adalah juga nama tua. Didalam prasasti-prasasti Trunyan yang diteliti oleh R. Goris desa ini disebut dengan nama Turunan.
C. Sejarah Desa Trunyan
Untuk menelusuri sejarah Trunyan secara lengkap dan obyektif sangatlah sulit. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sumber-sumber sejarah Trunyan berupa peninggalan-peninggalan tertulis seperti prasasti-prasasti.
Berdasarkan hasil penelitian para ahli yang kemudian telah pula diterbitkan, maka periodisasi (pembabakan) sejarah Trunyan dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Jaman Kuno
Jaman ini meliputi jaman Prasejarah dan masuknya pengaruh Hindu (baik dari masa pemerintahan dinasti Singhamandawa maupun masa pemerintahan kerajaan Gelgel).
Jaman Prasejarah di Trunyan ditandai oleh adanya. peninggalan kebudayaan megalitik, seperti misalnya : menhir, area dalarn ukuran yang cukup besar, yang oleh orang Trunyan dianggap sebagai perwujudan Dewa tertinggi mereka, yaitu Ratu Sakti Pancering Jagat (Da Tonta).
Selain itu ada pula peninggalan tangga batu besar, yang oleh penduduk Trunyan disebut jalan Batu Gede.
Meenurut cerita masyarakat Trunyan (yang sudah tentu perlu dikaji lebih jauh), bahwa jalan Batu Gede itu dibuat oleh Kebo Iwo.
Pada masa ini nampak sangat menonjol adanya sistim pemujaan Roh Nenek Moyang, dan kuatnya kepercayaan seperti Animisme dan Dinamisme.
Jaman pengaruh Hindu, pada masa ini dapat dilihat adanya beberapa hal penting antara lain :
Pada masa pemerintahan dinasti Singhamandawa pernah dike-luarkan sebuah prasasti berangka tahun 891 Masehi, yang isinya menyebutkan pemberian ijin kepada penduduk desa Turunan (Trunyan) untuk rnembangun kuil bagi Batara Da Tonta (Ratu Sakti Pancering Jagat).
Sebagai kewajiban penduduk Trunyan diharuskan memelihara kuil tersebut, dengan imbalan mereka dibebaskan dari beberapa jenis pajak.
Masa pemerintahan Kerajaan Gelgel, pada masa ini ada usaha dari raja Gelgel untuk menghindukan penduduk Trunyan, untuk rnaksud ini raja Gelgel telah memerintahkan warga Kepasekan Gelgel pergi ke Trunyan.
Sebagai hasilnya, penghinduan itu hanya menyentuh bagian luarnya saja (yang bersifat fisik).
Sampai sekarang penduduk Trunyan tetap menganggap Dewa tertinggi mereka adalah Ratu Sakti Pancering Jagat dan bukan Dewa Brahma, Wisnu dan Çiwa yang umumnya dipuja oleh umat Hindu.
Tentang adanya warga Kepasekan Gelgel yang diperintahkan oleh raja Gelgel untuk memerintah di Desa Trunyan dapat dibuktikan dengan dikenalnya warga kasta Banjar Jero, yang merupakan keturunan dari warga Kepasekan Gelgel.
Suatu hal yang perlu diketahui dari jaman kuno ini, bahwa Legenda dan Mita tentang asal usul orang Trunyan berkembang dengan suburnya, misalnya :
- Mita tentang Dewi yang turun dari Langit
- Legenda tentang anak-anak Dalem Solo yang menyelewengkan gamelan peraberian Dalem Solo
- Legenda tentang diketemukannya Patung Ratu Sakti Pancering Jagat.
- Legenda Kebo Iwa membantu orang Trunyan membuat jalan Batu Gede.
- Legenda panji Sakti menyerang Trunyan.
- Legenda mengenai Prasasti Trunyan yang digelapkan orang Desa Batur.
- Anggapan bahwa desa-desa Bintang Danu dan Iain-lain adalah Benua Desa Trunyan.
- Legenda tentang Batara Desa Landih adalah Putra Ratu Sakti Pancering Jagat.
- Legenda tentang Lesa Bunut dikalahkan Panji Sakti
- Desa Trunyan dahulu adalah bagian dari kerajaan Karangasem.
2. Masa Pemerintaharr-Belanda
Pada masa penimerintahan Belanda ada usaha untuk memudahkan penduduk Desa Bintang Danu, yang terletak disebelah pantai timur Danau Batur kedaerah Candi Kuning, dipantai barat Danau Bratan kabupaten Tabanan. Usaha ini gagal karena penduduk Desa Bintang Danu menolak pemindahan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya anggapan penduduk Desa Trunyan, bahwa Dewa tertinggi mereka masih melindunginya dari segala bencana.
3. Masa Pendudukan Jepang .
Kejadian penting pada masa ini adalah adanya pengiriman dua belas orang pemuda Trunyan ke Balik Papan untuk menjalankan Romusha (kerja paksa).
Setelah Jepang kalah dalam Perang Asia Timur Raya, maka sebagian Pemuda Trunyan yang dikirim ke Balik Papan kembali dengan selamat.
Mereka berjumlah enam orang. Satu orang menetap di Balik Papan dan yang lainnya meninggal.
Pada masa pendaratan tentara Nica di pulau Bali, pemuda-pemuda Bali memberontak. Pada masa ini Desa Trunyan pernah dijadikan tempat persembunyian oleh para pejuang. Para pejuang ini langsung dipimpin oleh Anak Agung Gede Mudita, pahlawan bangsa yang kemudian gugur di desa.
4. Jaman Merdeka
Pada tahun 1955 meru Ratu Sakti Pancering Jagat direstorasi (diperbaiki) oleh orang Belanda yang bernama J.C. Krygsman, ketika ia masih menjabat Kepala Cabang Purbakala di Bedulu.
Pada tahun 1959 terjadi kebakaran besar didesa induk Trunyan yang mengakibatkan rumah penduduk musnah.
Meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963, menyebabkan Desa Trunyan ditimbuni debu dan pasir letusan.
Ketika terjadi hujan lebat, maka desa Trunyan dan juga desa Pintang Danu lainnya disapu oleh lahar dingin.
Banyak rumah penduduk yang rusak, syukur tidak terjadi korban jiwa.
Dimasa ini setelah tahun 2008, setelah adanya jalan aspal yg bisa dilalui kendaraan roda 4 seperti mini bus DesaTrunyan makin memantapkan diri sbagai salah satu obyek Pariwisata di kintamani.
Untuk itu kiranya pelestarian kebudayaan dan lingkungan Trunyan sangat diperlukan.
D. Sistim Kepercayaan
Sistim kepercayaan yang ada dan berkembang pada orang-orang Trunyan pada pokoknya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Kepercayaan tentang Dunia Gaib.
Masyarakat Trunyan menyadari bahwa di dunia ini terdiri dari dua aspek, yaitu Dunia yang nyata dan Dunia yang tidak nyata. Didalam dunia tidak nyata inilah terdapat makhluk-makhluk halus dan kekuatan sakti yang tidak dapat dikuasai oleh kebanyakan orang Trunyan. Untuk membuat agar makhluk-mahkluk halus dan kekuatan sakti itu tidak mngganggu orang-orang Trunyan, maka mereka mengadakan “pemujaan” Dengan pemujaan itu diharapkan makhluk-makhluk halus dan kekuatan sakti itu akan tetap mengasihi dan melindungi orang-orang Trunyan.
2. Kepercayaan kepada Dewa-Dewa.
Dewa - Dewa yang dipuja oleh orang-orang Trunyan banyak jumlahnya dan tersusun dalam pola tertentu, sehingga merupakan pantheon. Dewa-Dewa itu mempunyai tempat persemayaman (pelinggih) masing-masing didalam Pura Utama Trunyan, Bali Desa Pancering Jagat Bali. Dewa-Dewa itu dapat digolongkan kedalam dua kelompok, yaitu : Dewa - Dewa yang tergolong kerabat Dewa Tertinggi Trunyan seperti :
Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar Ratu Ayu Makulun, Ratu Gede Dalam Dasar dan Dewa-Dewa yang tergolong dalam Pemerintahan Ratu Sakti Pancering Jagat, antara lain : Ratu Sakti Madue Gama Ujung Sari Ratu Sakti Pujangga Luih Ratu Sakti Madewa Raja, Ratu Ayu Manik surat Mapura Kangin, Ratu Ayu Manik surat Mapura Kauh dan Dewa Kembar, ButaKalat Batara Kaler, Ratu Wayan Purus Mandi, Ratu Wayan Barang Bedeh.
Pelinggih dari Dewa-Dewa ini (lihat Denah,dan keterangan-nya).
Selain itu berdasarkan perbedaan lokasi pelinggihnya dapat digolongkan sebagai berikut : Pelinggih yang berada di Desa Induk Trunyan (Belongan Trunyan) dan yang berada di tempek-tempek lainnya.
Terakhir Dewa-Dewa yang dipuja itu dapat digolongkan lagi berdasarkan jumlah pemujanya yaitu : Desa dan Dadia Lambang suci Dewa-Dewa orang Trunyan dapat dikelompokkan sebagai berikut : yang dibuat oleh manusia (seperti :Pratima) dan yang merupakan piturun yang menurut keyakinan orang Trunyan, Turun dari langit (seperti: Perwujudan dari Dewa Tertinggi Trunyan, Ratu Sakti Pancering Jagat, yang barupa area batu dengan tinggi ± 4 meter).
3. Kepercayaan mengenai makhluk-makhluk halus. Makhluk ini bersifat suka mengganggu ketentraman orang Trunyan, sehingga sangat ditakuti. Untuk mengatasi gangguan butakala ini maka orang Trunyan biasanya melakukan upacara mecaru pada waktu-waktu tertentu seperti misalnya: Tilem Kepitu, Tilem Keulu, Tilem Kesanga. Selain itu ada pula hantu, Nyama Pat, Jin dan Anak dipeteng.
4. Roh Pribadi dan Roh Leluhur.
Keyakinan akan adanya roh ini sangat kuat pada orang Trunyan. Menurut orang Trunyan, bahwa roh leluhur itu akan menitis kembali pada keluarganya (kerabatnya yang lain). Adakalanya Roh leluhur yang telah mencapai tingkat “Kedewaan” dapat menitis kembali. Apa bila itu terjadi maka”ia” akan lahir dengan wujud bayi kembar. Oleh karena itu di Trunyan ada keyakinan bahwa :
- Orang yang melahirkan bayi kembar berdosa karena menyamai dewanya.
- Orang yang melahirkan bayi kembar dianggap sebel (kotor), karena telah berlaku seperti beburon.
Kepada bayi kembar yang bisa hidup dan dianggap penjelmaan roh leluhur yang mencapai "Kedewaan” ini biasanya diberikan gelar ke sucian yaitu “Jero”. Khusus mengenai anak yang kembar buncing maka setelah dewasa mereka akan dikawinkan. Setelah diadakan upacara tertentu mereka disebut “Jero Gede” Apabila kelak mereka me-ninggal maka mereka akan disebut “Jero Sanghyang” (untuk yang laki) dan “Jero Istri” (untuk yang wanita) dan mereka dibuatkan pelinggih di sanggah dadya.





kalau mau buat blog... isi depkrisi rentang warung dan apa yang anda jual nake bro... tampilan udah menarik.. tapi isi gak ada kan sulit di terima di seach enggine... wkwkkkw
BalasHapusmoga sukses
Thank's atas advisenya brur, untuk isi masih progres, biar Top Morkotop, n bener usefull buat mereka yg mrencanakan liburan ke kintamani, Karena kita berusaha memberi pelbagai alasan mengapa Anda harus memutuskan Liburan anda di Kintamani.
Hapussalam hangat